Translate your language

Rabu, 27 April 2016

Penemu / Ilmuwan dari Indonesia

Penemu / Ilmuwan dari Indonesia

1. Prof. Dr. Rahmiana Zein
Kromatografi Tercepat

Di bawah bimbingan Profesor Toyohide Takeuchi di Universitas Gipu, Jepang, pada tahun 1998, Prof. Dr. Rahmiana Zein, yang saat itu sedang melakukan penelitian untuk disertasi doktor bidang kimia menemukan teknik kromatografi tercepat di dunia. Jika sebelum ini peneliti membutuhkan waktu antara 1.000 dan 100 menit untuk membedah senyawa kimia, teknik yang digunakan Rahmiana Zein mampu mendiagnosis senyawa kimia dalam waktu kurang dari 10 menit.

2 Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono
Tak disangka, ternyata astronot pertama Indonesia adalah seorang perempuan. Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono merupakan astronot pertama Indonesia yang berencana menjalankan misinya ke luar angkasa pada bulan Oktober tahun 1985. Beliau yang saat itu berusia 33 tahun menduduki posisi sebagai spesialis muatan dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H.

Namun, sayangnya misi tersebut gagal dilaksanakan karena adanya bencana Challenger yang mengakibatkan pesawat yang akan dinaiki oleh Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono meledak pada misi sebelumnya. Selain menjadi astronot pertama di Indonesia, Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono juga merupakan astronot ilmuwan pertama Asia.


3.  EVVY KARTINI
Penemu Penghantar Listrik Berbahan Gelas

Di kalangan internasional, Dr. Evvy Kartini memiliki reputasi terhormat. Ia dikenal sebagai ilmuwan penemu penghantar listrik berbahan gelas dengan teknik hamburan netron yang berdaya hantar sepuluh ribu kali lipat dari bahan sebelumnya. Penemuannya itu membuka peluang produksi baterai mikro isi ulang. Material kaca yang lebih elastis, secara logika bisa dibentuk semungil dan setipis mungkin. Revolusi baterai pun di depan mata. Baterai tidak lagi identik berpenghantar elektrolit cair.

Sebelum menemukan bahan-bahan gelas berpenghantar listrik superionik, dibutuhkan percobaan mahal. Inilah yang sempat membuatnya hampir putus asa. Biaya dan fasilitas penelitian di Indonesia, termasuk Batan, tidak memungkinkannya. Beruntung, Evvy, penerima penghargaan Indonesia Toray Science Foundation/ITSF 2004 ini bukanlah tipe yang mudah putus asa. Dikirimkannya proposal itu ke lembaga penelitian di Kanada.

Ketertarikan sarjana Fisika lulusan ITB itu terhadap pengembangan material gelas berawal pada saat ia magang di Hahn Meitner Institute (HMI) di Berlin, Jerman, 1990. Ia dibimbing ahli hamburan netron Prof Dr Ferenc Mezei.

Karier penelitiannya dimulai saat menyelesaikan S2-nya di Universitas Teknik Berlin. Ia berhasil menemukan model baru difusi dalam material gelas. Penemuan itu dipresentasikan pada Konferensi Internasional Hamburan Netron (ICNS) Jepang. Maka namanya mulai tercatat dalam jurnal penelitian internasional bergengsi seperti Physica B (1994). Sejak itu, tawaran presentasi dan konferensi mengalir deras.

Tahun 1996, melalui kolaborasinya dengan profesor dari Universitas Mc Master, Kanada, Evvy kembali menemukan hal baru: adanya puncak Boson pada saat energi rendah. Temuan itu dipresentasikannya pada 600 peserta konferensi hamburan netron Eropa I/ECNS di Interlaken, Swiss. Namanya kembali tercatat dalam jurnal internasional, Canadian Journal of Physics (1995), Physical Review B (1995), dan Physica B (1997).

Ia pun mulai berkolaborasi dengan profesor dari Organisasi Sains dan Teknologi Nuklir Australia (ANSTO). Profesor itulah yang membuka jalan untuk berkolaborasi dengan banyak profesor lain di negara maju.

Penelitian tentang bahan-bahan superionik berbahan gelas ia mulai tahun 1996, sepulang dari Jerman. Ia sempat frustrasi karena terbatasnya fasilitas, tetapi tetap tekun menyiapkan eksperimen, seperti difraksi Sinar X dan pengukuran suhu serta konduktivitasnya, untuk dikirim ke Chalk River Laboratory, Kanada.

Tahun 1998 ia menerima penghargaan Riset Unggulan Terpadu (RUT) VI dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi atas penelitiannya berjudul "Sintesa dan Karakterisasi Bahan-bahan Gelas Superionik (AgI)x(AgPO3)1-x". Tahun itu juga, ia menerima tawaran program postdoctoral di Kanada.


Sungguh kebetulan. Ia tidak perlu menyupervisi contoh yang akan dieksperimen di Kanada. Bersama Prof Dr MF Collins, ia mencoba memahami mekanisme konduksi dari bahan gelas bersifat superionik dan mengamati ketergantungan suhu bahan-bahan superionik.

Saat itu pula ia mulai berkolaborasi dengan para profesor peneliti netron dari Jepang dan Inggris, negara-negara terkemuka dalam penelitian netron. Kolaborasi menghasilkan fenomena dinamika ion dalam bahan-bahan gelas. Penemuan besar yang dicari para ilmuwan dari berbagai belahan dunia.

Dalam tempo dua tahun, 1998-2000, namanya tercatat di sepuluh jurnal bergengsi sebagai peneliti utama. Selain tercatat di jurnal Physica B, Evvy juga menulis buku Solid State Ionics (2001) bersama profesor dari Jepang.

Di tengah kepopulerannya di kalangan fisikawan negara maju, dan berbagai bujukan dengan segala fasilitas untuk berkiprah di luar negri, namun istri Dr Ir Pratondo Busono (Kepala Bidang Instrumentasi Kedokteran BPPT) mengatakan tetap ingin bertahan di Indonesia. Ia mengaku masih ingin bebas meneliti dan memberikan ilmunya untuk kemajuan negeri ini. (Gesit Ariyanto) --- Sumber: Harian Kompas, 2004.


4.  SRI WURYANI, MUSTADJAB, EUIS NIRMALA, SIWI HARDIASTUTI
Penemu Pengawet Aroma dalam Hampa
Bayangkan sebutir apel basah yang baru dipetik. Lantas kupas, bijinya dibuang lalu digoreng. Hasilnya apel goreng yang crunchy, tapi rasa dan aroma tetap seperti baru dipetik dari pohon. Dan aroma itu bertahan selama enam bulan. Ajaib! Berterima kasihlah pada empat peneliti Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta. Merekalah, Dr. Sri Wuryani, Dr. Mustadjab, Ir Euis Maria Nirmala dan Ir Siwi Hardiastuti, penemu teknik penggorengan vakum yang bisa membuat “buah ajaib” tadi.

Mempertahankan aroma dilakukan dengan menjaga titik didih minyak. “Kami menguapkan air dalam buah, tapi zat-zat pembentuk aroma tetap bertahan”, kata Sri. Suhu yang diperlukan 77,5 derajat celsius, dengan tekanan udara di atas ketel 0,8 atmosfer. Pada tekanan normal, minyak mendidih pada temperatur 150 derajat celsius.

Perangkat utama penggorengan adalah tabung baja antikarat, sepanjang satu meter dengan lebar 0,5 meter yang dilengkapi alat pengukur tekanan. Tabung dengan pengatur suhu itu disambung ke penyedot udara. Untuk menjaga tekanan dan temperatur, ke dalam tabung diembuskan udara dingin. Sebagai pemanas dipakai kompor gas biasa. Harga alat berbobot 85 kilogram ini Rp 10 juta gingga Rp 15 juta. Bukan Cuma buah, sayuran pun bisa diolah dalam tungku penahan aroma ini. “Wortel, kacang panjang, kentang juga bisa renyah”, kata Sri. (Irwan Andri Atmanto) --- Sumber: Majalah Gatra Ed Khusus, Agustus 2004.

5.  NENY NURAINY
Penemu Varian Virus Hepatitis B Spesifik Indonesia
Perempuan muda kelahiran kota kembang, Bandung, 14 Februari 1974 ini, Alhamdulillah telah berhasil menemukan varian virus hepatitis B khas Indonesia setelah memeriksa darah pasien yang positif mengandung HbsAg, yakni antigen pada selubung terluar Hepadna viridae (nama ilmiah virus hepatitis B).

Penelitian ini merupakan penelitian terbaru dalam dunia biologi molekuler virus. Dan merupakan berkah bagi perkembangan antibiotika dan proses penyembuhan pasien hepatitis B yang kini jumlahnya kian hari kian meningkat.

Dengan metode yang dikembangkannya dan diberi nama ELISA (enzyme-linked immunisorbenty assay), Neni berhasil membedah dan memilah virus yang mematikan itu dalam serotipe: adw, adr, ayw dan ayr. Dengan demikian, virus penyerang tersebut berhasil diklasifikasikan berdasarkan genotipe perbedaan susunan nukleotida pada DNA (deoxyribo nucleic acid)-nya. Ada delapan genotipe yang berhasil ditemukan: A, B, C, D, E, F, G dan H, dimana genotipe tersebut terbagi lagi dalam sub-sub genotipe, misalnya: Ba, Bwi (B west indonesia), Bei (B east indonesia), Bci (B chinese indonesia) dan Bj untuk genotipe B. 

Dengan penemuan metode baru ini maka tes DNA virus yang sebelumnya bisa memakan waktu lama dan harga yang sangat tinggi, bisa ditekan dengan harga yang jauh lebih murah dan cepat. Bahkan diagnosis dokter akan lebih fokus serta lebih spesifik pada sasaran dan dapat benar-benar memberikan serangan penghancur terhadap virus.

Tak ayal, penemuan Neni ini sangat membantu pasien dalam menentukan terapi apa yang paling tepat bagi diagnosis penyembuhan penyakit hepatitisnya. Selain itu juga bisa digunakan untuk perbedaan membuat manifestasi klinik penyakit hepatitis B. Sehingga perkembangan akumulasi hepatitis menjadi akumulasi hepatitis akut, sirosis hati atau kanker hati akan terdeteksi dan tercegah sejak dini.

Neni sendiri menemukan metode ini pada waktu menyelesaikan program doktoral ilmu biomedik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Penelitian yang dilakukan di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (Lembaga Eijkman) ini sebenarnya pada mulanya adalah penelitian untuk program master. Namun karena penemuannya dianggap spektakuler oleh ahli hepatitis, dr. David Handojo Muljono, SpPD, PhD. dan ahli biologi molekuler dr. Herawatie Sudoyo, PhD., Neni dipromosikan menjadi mahasiswa S3 sekaligus tesisnya dijadikan sebagai penelitian program doktoral. Apalagi nilai akademik Neni dalam program pasca sarjana Biomedik sangat memungkinkan untuk melanjutkan jenjang doktoral ini.

Dalam penelitian ini, Neni mengambil 36 sampel serum dari delapan populasi sehat yang tersebar di Nusantara. Mulai dari etnik Jawa, Batak Karo dan Dayak Benuaq (mewakili Indonesia Barat). Juga Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Alor dan Sumba (mewakili Indonesia Timur) serta Indocina (mewakili keturunan Tionghoa).

Dari tiga penggolongan tersebut (gen yang berada dibawah adw, ayw dan adr), oleh Neni dilakukan uji statistik chisquare. Dimana perlakuan ini pada akhirnya menghasilkan sebuah penemuan baru lagi yaitu hubungan antara serotipe dan genotipe atau subgenotipe VHB. Data serotipe inilah yang oleh Neni dikonversikan menjadi genotipe atau sub genotipe.

Keberhasilan dalam upaya pengkonversian serotipe inilah yang mengantarkan Neni meraih gelar doktor dengan predikat yudisium cumlaude, sekaligus mengantarkannya sebagai doktor keenam dan doktor termuda dari program Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Padahal semasa remaja, dia termasuk badung. Tapi karena ketatnya sang ayah maka setiap sebelum adzan berkumandang dapat dipastikan Neni akan buru-buru pulang. ”Kalau tidak, ayah akan marah besar. Dan jangan harap bisa menonton acara kartun di TV yang kami sukai saat itu”, jelas Neni.

Perjalanan hidup dan pendidikan kedua orangtua Neni ini sepertinya membekas dalam karakter hidupnya. Bermula dari keprihatinan, kemudian melahirkan penemuan spektakuler, yang InsyaAllah berguna untuk kemaslahatan umat manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar