Penemu / Ilmuwan dari Indonesia
Kromatografi Tercepat
Di bawah bimbingan Profesor Toyohide Takeuchi di Universitas Gipu, Jepang, pada tahun 1998, Prof. Dr. Rahmiana Zein, yang saat itu sedang melakukan penelitian untuk disertasi doktor bidang kimia menemukan teknik kromatografi tercepat di dunia. Jika sebelum ini peneliti membutuhkan waktu antara 1.000 dan 100 menit untuk membedah senyawa kimia, teknik yang digunakan Rahmiana Zein mampu mendiagnosis senyawa kimia dalam waktu kurang dari 10 menit.
2. Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono
Tak disangka, ternyata astronot pertama Indonesia adalah seorang perempuan. Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono merupakan astronot pertama Indonesia yang berencana menjalankan misinya ke luar angkasa pada bulan Oktober tahun 1985. Beliau yang saat itu berusia 33 tahun menduduki posisi sebagai spesialis muatan dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H.
Namun, sayangnya misi tersebut gagal dilaksanakan karena adanya bencana Challenger yang mengakibatkan pesawat yang akan dinaiki oleh Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono meledak pada misi sebelumnya. Selain menjadi astronot pertama di Indonesia, Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono juga merupakan astronot ilmuwan pertama Asia.
3. EVVY KARTINI
Penemu Penghantar
Listrik Berbahan Gelas
Di kalangan internasional, Dr. Evvy Kartini memiliki
reputasi terhormat. Ia dikenal sebagai ilmuwan penemu penghantar listrik
berbahan gelas dengan teknik hamburan netron yang berdaya hantar sepuluh
ribu kali lipat dari bahan sebelumnya. Penemuannya itu membuka peluang
produksi baterai mikro isi ulang. Material kaca yang lebih elastis, secara
logika bisa dibentuk semungil dan setipis mungkin. Revolusi baterai pun di
depan mata. Baterai tidak lagi identik berpenghantar elektrolit cair.
Sebelum menemukan bahan-bahan gelas berpenghantar
listrik superionik, dibutuhkan percobaan mahal. Inilah yang sempat
membuatnya hampir putus asa. Biaya dan fasilitas penelitian di Indonesia,
termasuk Batan, tidak memungkinkannya. Beruntung, Evvy, penerima penghargaan
Indonesia Toray Science Foundation/ITSF 2004 ini bukanlah tipe yang mudah putus asa.
Dikirimkannya proposal itu ke lembaga penelitian di Kanada.
Ketertarikan sarjana Fisika lulusan ITB itu terhadap
pengembangan material gelas berawal pada saat ia magang di Hahn Meitner
Institute (HMI) di Berlin, Jerman, 1990. Ia dibimbing ahli hamburan netron
Prof Dr Ferenc Mezei.
Karier penelitiannya dimulai saat menyelesaikan S2-nya
di Universitas Teknik Berlin. Ia berhasil menemukan model baru difusi dalam
material gelas. Penemuan itu dipresentasikan pada Konferensi Internasional
Hamburan Netron (ICNS) Jepang. Maka namanya mulai tercatat dalam jurnal
penelitian internasional bergengsi seperti Physica B (1994). Sejak itu,
tawaran presentasi dan konferensi mengalir deras.
Tahun 1996, melalui kolaborasinya dengan profesor dari
Universitas Mc Master, Kanada, Evvy kembali menemukan hal baru: adanya
puncak Boson pada saat energi rendah. Temuan itu dipresentasikannya pada
600 peserta konferensi hamburan netron Eropa I/ECNS di Interlaken, Swiss.
Namanya kembali tercatat dalam jurnal internasional, Canadian Journal of
Physics (1995), Physical Review B (1995), dan Physica B (1997).
Ia pun mulai berkolaborasi dengan profesor dari
Organisasi Sains dan Teknologi Nuklir Australia (ANSTO). Profesor itulah
yang membuka jalan untuk berkolaborasi dengan banyak profesor lain di
negara maju.
Penelitian tentang bahan-bahan superionik berbahan
gelas ia mulai tahun 1996, sepulang dari Jerman. Ia sempat frustrasi karena
terbatasnya fasilitas, tetapi tetap tekun menyiapkan eksperimen, seperti
difraksi Sinar X dan pengukuran suhu serta konduktivitasnya, untuk dikirim
ke Chalk River Laboratory, Kanada.
Tahun 1998 ia menerima penghargaan Riset Unggulan
Terpadu (RUT) VI dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi atas
penelitiannya berjudul "Sintesa dan Karakterisasi Bahan-bahan Gelas
Superionik (AgI)x(AgPO3)1-x". Tahun itu juga, ia menerima tawaran
program postdoctoral di Kanada.
Sungguh kebetulan. Ia tidak perlu menyupervisi contoh
yang akan dieksperimen di Kanada. Bersama Prof Dr MF Collins, ia mencoba
memahami mekanisme konduksi dari bahan gelas bersifat superionik dan
mengamati ketergantungan suhu bahan-bahan superionik.
Saat itu pula ia mulai berkolaborasi dengan para
profesor peneliti netron dari Jepang dan Inggris, negara-negara terkemuka
dalam penelitian netron. Kolaborasi menghasilkan fenomena dinamika ion
dalam bahan-bahan gelas. Penemuan besar yang dicari para ilmuwan dari
berbagai belahan dunia.
Dalam tempo dua tahun, 1998-2000, namanya tercatat di
sepuluh jurnal bergengsi sebagai peneliti utama. Selain tercatat di jurnal
Physica B, Evvy juga menulis buku Solid State Ionics (2001) bersama
profesor dari Jepang.
4. SRI WURYANI, MUSTADJAB, EUIS NIRMALA, SIWI
HARDIASTUTI
Penemu Pengawet
Aroma dalam Hampa
Bayangkan sebutir apel
basah yang baru dipetik. Lantas kupas, bijinya dibuang lalu digoreng.
Hasilnya apel goreng yang crunchy,
tapi rasa dan aroma tetap seperti baru dipetik dari pohon. Dan aroma itu
bertahan selama enam bulan. Ajaib! Berterima kasihlah pada empat peneliti
Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta.
Merekalah, Dr. Sri Wuryani, Dr. Mustadjab, Ir Euis Maria Nirmala dan Ir
Siwi Hardiastuti, penemu teknik penggorengan vakum yang bisa membuat
“buah ajaib” tadi.
Mempertahankan aroma
dilakukan dengan menjaga titik didih minyak. “Kami menguapkan air
dalam buah, tapi zat-zat pembentuk aroma tetap bertahan”, kata Sri.
Suhu yang diperlukan 77,5 derajat celsius, dengan tekanan udara di atas
ketel 0,8 atmosfer. Pada tekanan normal, minyak mendidih pada temperatur
150 derajat celsius.
5. NENY NURAINY
Penemu Varian
Virus Hepatitis B Spesifik Indonesia
Perempuan muda kelahiran kota kembang, Bandung, 14
Februari 1974 ini, Alhamdulillah telah berhasil menemukan varian virus
hepatitis B khas Indonesia setelah memeriksa darah pasien yang positif
mengandung HbsAg, yakni antigen pada selubung terluar Hepadna viridae (nama
ilmiah virus hepatitis B).
Penelitian ini merupakan penelitian terbaru dalam
dunia biologi molekuler virus. Dan merupakan berkah bagi perkembangan
antibiotika dan proses penyembuhan pasien hepatitis B yang kini jumlahnya
kian hari kian meningkat.
Dengan metode yang dikembangkannya dan diberi nama
ELISA (enzyme-linked immunisorbenty assay), Neni berhasil membedah dan
memilah virus yang mematikan itu dalam serotipe: adw, adr, ayw dan ayr.
Dengan demikian, virus penyerang tersebut berhasil diklasifikasikan
berdasarkan genotipe perbedaan susunan nukleotida pada DNA (deoxyribo
nucleic acid)-nya. Ada delapan genotipe yang berhasil ditemukan: A, B, C,
D, E, F, G dan H, dimana genotipe tersebut terbagi lagi dalam sub-sub
genotipe, misalnya: Ba, Bwi (B west indonesia), Bei (B east indonesia), Bci
(B chinese indonesia) dan Bj untuk genotipe B.
Dengan penemuan metode baru ini maka tes DNA virus
yang sebelumnya bisa memakan waktu lama dan harga yang sangat tinggi, bisa
ditekan dengan harga yang jauh lebih murah dan cepat. Bahkan diagnosis
dokter akan lebih fokus serta lebih spesifik pada sasaran dan dapat
benar-benar memberikan serangan penghancur terhadap virus.
Tak ayal, penemuan Neni ini sangat membantu pasien
dalam menentukan terapi apa yang paling tepat bagi diagnosis penyembuhan
penyakit hepatitisnya. Selain itu juga bisa digunakan untuk perbedaan
membuat manifestasi klinik penyakit hepatitis B. Sehingga perkembangan
akumulasi hepatitis menjadi akumulasi hepatitis akut, sirosis hati atau
kanker hati akan terdeteksi dan tercegah sejak dini.
Neni sendiri menemukan metode ini pada waktu
menyelesaikan program doktoral ilmu biomedik di Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia (FKUI). Penelitian yang dilakukan di Lembaga Biologi
Molekuler Eijkman (Lembaga Eijkman) ini sebenarnya pada mulanya adalah
penelitian untuk program master. Namun karena penemuannya dianggap
spektakuler oleh ahli hepatitis, dr. David Handojo Muljono, SpPD, PhD. dan
ahli biologi molekuler dr. Herawatie Sudoyo, PhD., Neni dipromosikan
menjadi mahasiswa S3 sekaligus tesisnya dijadikan sebagai penelitian
program doktoral. Apalagi nilai akademik Neni dalam program pasca sarjana
Biomedik sangat memungkinkan untuk melanjutkan jenjang doktoral ini.
Dalam penelitian ini, Neni mengambil 36 sampel serum
dari delapan populasi sehat yang tersebar di Nusantara. Mulai dari etnik
Jawa, Batak Karo dan Dayak Benuaq (mewakili Indonesia Barat). Juga Bugis,
Makassar, Mandar, Toraja, Alor dan Sumba (mewakili Indonesia Timur) serta
Indocina (mewakili keturunan Tionghoa).
Dari tiga penggolongan tersebut (gen yang berada
dibawah adw, ayw dan adr), oleh Neni dilakukan uji statistik chisquare.
Dimana perlakuan ini pada akhirnya menghasilkan sebuah penemuan baru lagi
yaitu hubungan antara serotipe dan genotipe atau subgenotipe VHB. Data
serotipe inilah yang oleh Neni dikonversikan menjadi genotipe atau sub
genotipe.
Keberhasilan dalam upaya pengkonversian serotipe
inilah yang mengantarkan Neni meraih gelar doktor dengan predikat yudisium cumlaude,
sekaligus mengantarkannya sebagai doktor keenam dan doktor termuda dari
program Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Padahal semasa remaja, dia termasuk badung. Tapi
karena ketatnya sang ayah maka setiap sebelum adzan berkumandang dapat
dipastikan Neni akan buru-buru pulang. ”Kalau tidak, ayah akan
marah besar. Dan jangan harap bisa menonton acara kartun di TV yang kami sukai saat itu”,
jelas Neni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar